Tampilkan postingan dengan label dunia motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

Renungan Pagi

ksatria-berkuda.jpg (274×184)
Dulu kala ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda & menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya.

Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya & melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Dia melaju & terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin.

Ketika lapar & letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya & dia menjadi begitu kelelahan & hampir mati.

Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat & aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri."

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa & kebanggaan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga & kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan & juga kehidupan rohani & ibadah kita. Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok.

Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu seminggu? 1 bulan? 1 tahun? 10 atau 40 tahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan mati? Kita semua tidak ada yang tahu.

Jalanilah hidup yang seimbang!
Belajarlah untuk menghormati & menikmati kehidupan, & yang terutama mengetahui apa yang terpenting dalam hidup ini.
Mulai saat ini tinggalkanlah kegiatan rutin anda di saat libur & manfaatkan akhir pekan bersama keluarga ...

Renungan Pagi

ksatria-berkuda.jpg (274×184)
Dulu kala ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda & menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya.

Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya & melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Dia melaju & terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin.

Ketika lapar & letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya & dia menjadi begitu kelelahan & hampir mati.

Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat & aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri."

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa & kebanggaan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga & kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan & juga kehidupan rohani & ibadah kita. Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok.

Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu seminggu? 1 bulan? 1 tahun? 10 atau 40 tahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan mati? Kita semua tidak ada yang tahu.

Jalanilah hidup yang seimbang!
Belajarlah untuk menghormati & menikmati kehidupan, & yang terutama mengetahui apa yang terpenting dalam hidup ini.
Mulai saat ini tinggalkanlah kegiatan rutin anda di saat libur & manfaatkan akhir pekan bersama keluarga ...

Senin, 22 Agustus 2011

~� Mari Kita Berpikir Kecil Saja..!! �~



"Size doesn�t matter"







Kita masih percaya itu? Bisa iya. Bisa juga tidak, sih. Yang jelas, dengan berpikir besar kita terdorong untuk menjadi pribadi besar dengan pencapaian yang besar. Kita sudah sejak lama memahami hal itu. Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk melakukan sebuah eksperimen yang sebaliknya. Apakah itu? Berpikir kecil. Lho, kok berpikir kecil? Bukankah semua orang ingin menjadi besar dan sangat mendambakan ukuran yang besar-besar? Betul, tetapi faktanya kita sering sekali membutuhkan yang kecil-kecil. Bahkan ketika sedang berhadapan dengan suatu masalah, kita dinasihatkan, jangan membesar-besarkan hal yang kecil-kecil.















Kegandrungan kita terhadap teknologi nano adalah fakta tidak terbantahkan lainnya bahwa semakin hari, kebutuhan manusia semakin mengarah kepada "hal-hal yang kecil". Sebagian besar perangkat pendukung kehidupan kita dibuat menjadi semakin kecil, semakin compact, dan semakin percayalah kita bahwa semuanya semakin sesuai dengan kebutuhan kita yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa disadari atau tidak, sesungguhnya saat ini tengah terjadi "revolusi" dimana "yang kecil" mengambil alih peran dominan "yang besar". Dalam cara berpikirpun, sudah saatnya kita menyesuaikan diri dengan arus "revolusi" itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya bereksperimen dengan cara berpikir kecil.












Saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:












1. Membangkitkan Sikap Rendah Hati
















Pernahkah Anda melihat seseorang patantang petenteng sekalian membangga-banggakan �kebesaran� dirinya? Bagaimana kesan Anda terhadap orang itu? Kita bisa menilai orang dari cara berjalannya, cara berbicaranya, juga dari caranya memperlakukan orang lain. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang mengira dirinya besar cenderung terjebak oleh �jubah kebesarannya� sehingga mereka harus mengimbangi �kebesaran� itu dengan semakin membesarkan egonya sendiri. Sebaliknya, orang-orang yang merasa dirinya masih kecil meskipun pencapaiannya sudah sangat besar tetap bisa bersikap rendah hati. Kepada siapa Anda menaruh rasa hormat paling tinggi; mereka yang mengira dirinya besar dan bersikap arogan; atau kepada orang-orang yang memiliki pencapaian tinggi namun tetap bersikap rendah hati? Meskipun Anda sudah berhasil memperoleh pencapaian tinggi, tetapi berpikirlah kecil; karena diatas gunung masih ada gunung. Dan dengan kesadaran itu, Anda memupuk sikap rendah hati.








2. Merangsang untuk bermain di "playing ground" yang lebih besar
















Mungkin Anda pernah bertemu dengan seseorang yang pencapaian hidupnya termasuk luar biasa. Namun dia berkata begini;�Saya ini belum ada apa-apanya, Mas�.� Hanya karena berendam didalam bathtub, tidak berarti bahwa kita sudah menjadi orang yang besar. Mengapa? Bukan karena kitanya yang besar, tetapi bathtub-nya yang kecil. Berenanglah di kolam, maka tubuh Anda tidak lagi bisa menutupi semua permukaannya. Bersampanlah di sebuah danau, maka Anda akan tahu besarnya diri Anda itu masih terlalu kecil untuk luasnya danau. Dan berlayarlah di samudera, maka Anda akan lebih sadar bahwa diri kita ini tidak ada apa-apanya dihadapan jagat raya. Maka sekarang saya mengerti, mengapa orang-orang yang berhasil menjaga dirinya untuk tetap rendah hati tidak pernah berhenti untuk terus berprestasi. Semakin besar pencapaian mereka, semakin sadar betapa kecilnya mereka. Dan semakin terdoronglah mereka untuk bermain di �playing ground� yang lebih besar. Jadi, jika Anda sering merasa diri sudah sangat besar, mungkin Anda perlu ikut mereka yang bermain di �playing ground� yang lebih besar.








3. Segala hal besar dibangun dengan komponen-komponen kecil
















Sebesar apa rumah tinggal Anda? Tidak akan sebesar itu tanpa butiran-butiran pasir. Sebesar apa perusahaan Anda? Tidak akan bisa besar seperti sekarang jika tidak ada �orang-orang kecil� yang mau bekerja untuk Anda. Seberapa besar gaji yang Anda terima? Tidak akan sebesar itu jika tanpa kontribusi orang-orang bergaji lebih kecil yang Anda pimpin. Faktanya, semua hal besar yang ada dalam kehidupan kita dibangun dengan komponen-komponen kecil. Semoga hal ini semakin memperkuat kesadaran kita bahwa kebesaran yang saat ini kita miliki adalah hasil dari kontribusi peran-peran kecil yang mungkin sering tidak kita sadari bahkan mungkin terabaikan. Dengan kesadaran ini, maka kita bisa menjadi pribadi yang tetap berpijak diatas bumi. Terutama ketika berhadapan dengan orang lain yang kita nilai �kecil� dihadapan kita.








4. Membangun rasa percaya diri
















Salah satu masalah yang paling sering menghambat kesuksesan seseorang adalah rendahnya rasa percaya diri. Percayalah, sekecil apapun peran yang bisa kita mainkan pasti akan memberi dampak yang besar jika kita melakukannya dengan kesungguhan. Cobalah perhatikan orang-orang yang paling sukses di kantor Anda. Sebagian terbesar mereka adalah �mantan orang kecil� seperti Anda beberapa belas atau puluhan tahun sebelumnya. Jadi, sungguh tidak relevan jika sekarang kita membanding-bandingkan diri dengan mereka. Berfokuslah dengan kemampuan diri Anda, mengoptimalkan penggunaannya, dan perbaikilah apa yang kurang didalamnya. Lama kelamaan, Anda akan memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan mereka yang sudah menjadi besar. Bahkan, boleh jadi Anda bisa melampaui pencapaian mereka. Apakah Anda masih merasa minder dengan pencapaian kecil yang hari ini Anda dapatkan? Jika demikian, pupuklah rasa percaya diri Anda. Dan berfokuslah untuk mengaktualisasikan hal terbaik didalam diri Anda, dalam setiap karya yang Anda persembahkan.




5. Hal-hal kecil yang konsisten lebih berdampak daripada hal besar sekali tembak
















Dalam banyak hal, kita sering tergoda untuk melakukan sesuatu yang �besar� namun angin-anginan. Ketika semangat kita sedang memuncak, kita begitu menggebu-gebunya melakukan sesuatu. Begitu kita bosan? Kita mencampakkannya begitu saja. Pergilah ke fitness center setahun sekali. Lalu berolah ragalah sampai seluruh tenaga Anda terkuras habis dan setiap tetes keringat Anda mengering. Alih-alih menjadi sehat, Anda malah beresiko terkena serangan jantung. Begitu pula dalam aspek kehidupan kita yang lainnya. Kita tidak akan mungkin menghasilkan sesuatu yang benar-benar berdampak dengan melakukan hal besar sekali tembak. Melakukan hal kecil secara konsisten, itulah yang bisa membangun kemampuan terbesar kita. Membaca buku bagus, misalnya. Jika langsung lahap semuanya, maka kepala Anda akan pusing. Tetapi jika dicerna perlahan-lahan; Anda akan mampu memahaminya dengan baik. Saat menjalani hidup, lebih baik melakukan hal-hal kecil secara konsisten daripada mengerjakan hal besar namun hanya sekali tembak.












Berpikir kecil bisa membantu kita untuk menuju kepada pencaian yang semakin tinggi. Pada saat yang sama, berpikir kecil juga menjaga diri kita untuk tetap berada dalam sikap bersahaja dan kerendahan hati. Sebab, dengan berpikir kecil; kita tetap bisa melihat peran orang-orang kecil. Dan semakin hari, kita semakin menyadari bahwa sebesar apapun kita, sungguh sangat kecil dihadapan Dia Yang Maha Besar.








Mereka yang memiliki pencapaian tinggi namun tetap rendah hati, jauh lebih indah perangainya dibandingkan mereka yang sudah merasa dirinya terlalu besar untuk mengakui peran orang-orang kecil terhadap kebesaran dirinya.








Mari Berbagi Semangat!


~� Mari Kita Berpikir Kecil Saja..!! �~



"Size doesn�t matter"







Kita masih percaya itu? Bisa iya. Bisa juga tidak, sih. Yang jelas, dengan berpikir besar kita terdorong untuk menjadi pribadi besar dengan pencapaian yang besar. Kita sudah sejak lama memahami hal itu. Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk melakukan sebuah eksperimen yang sebaliknya. Apakah itu? Berpikir kecil. Lho, kok berpikir kecil? Bukankah semua orang ingin menjadi besar dan sangat mendambakan ukuran yang besar-besar? Betul, tetapi faktanya kita sering sekali membutuhkan yang kecil-kecil. Bahkan ketika sedang berhadapan dengan suatu masalah, kita dinasihatkan, jangan membesar-besarkan hal yang kecil-kecil.















Kegandrungan kita terhadap teknologi nano adalah fakta tidak terbantahkan lainnya bahwa semakin hari, kebutuhan manusia semakin mengarah kepada "hal-hal yang kecil". Sebagian besar perangkat pendukung kehidupan kita dibuat menjadi semakin kecil, semakin compact, dan semakin percayalah kita bahwa semuanya semakin sesuai dengan kebutuhan kita yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa disadari atau tidak, sesungguhnya saat ini tengah terjadi "revolusi" dimana "yang kecil" mengambil alih peran dominan "yang besar". Dalam cara berpikirpun, sudah saatnya kita menyesuaikan diri dengan arus "revolusi" itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya bereksperimen dengan cara berpikir kecil.












Saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:












1. Membangkitkan Sikap Rendah Hati
















Pernahkah Anda melihat seseorang patantang petenteng sekalian membangga-banggakan �kebesaran� dirinya? Bagaimana kesan Anda terhadap orang itu? Kita bisa menilai orang dari cara berjalannya, cara berbicaranya, juga dari caranya memperlakukan orang lain. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang mengira dirinya besar cenderung terjebak oleh �jubah kebesarannya� sehingga mereka harus mengimbangi �kebesaran� itu dengan semakin membesarkan egonya sendiri. Sebaliknya, orang-orang yang merasa dirinya masih kecil meskipun pencapaiannya sudah sangat besar tetap bisa bersikap rendah hati. Kepada siapa Anda menaruh rasa hormat paling tinggi; mereka yang mengira dirinya besar dan bersikap arogan; atau kepada orang-orang yang memiliki pencapaian tinggi namun tetap bersikap rendah hati? Meskipun Anda sudah berhasil memperoleh pencapaian tinggi, tetapi berpikirlah kecil; karena diatas gunung masih ada gunung. Dan dengan kesadaran itu, Anda memupuk sikap rendah hati.








2. Merangsang untuk bermain di "playing ground" yang lebih besar
















Mungkin Anda pernah bertemu dengan seseorang yang pencapaian hidupnya termasuk luar biasa. Namun dia berkata begini;�Saya ini belum ada apa-apanya, Mas�.� Hanya karena berendam didalam bathtub, tidak berarti bahwa kita sudah menjadi orang yang besar. Mengapa? Bukan karena kitanya yang besar, tetapi bathtub-nya yang kecil. Berenanglah di kolam, maka tubuh Anda tidak lagi bisa menutupi semua permukaannya. Bersampanlah di sebuah danau, maka Anda akan tahu besarnya diri Anda itu masih terlalu kecil untuk luasnya danau. Dan berlayarlah di samudera, maka Anda akan lebih sadar bahwa diri kita ini tidak ada apa-apanya dihadapan jagat raya. Maka sekarang saya mengerti, mengapa orang-orang yang berhasil menjaga dirinya untuk tetap rendah hati tidak pernah berhenti untuk terus berprestasi. Semakin besar pencapaian mereka, semakin sadar betapa kecilnya mereka. Dan semakin terdoronglah mereka untuk bermain di �playing ground� yang lebih besar. Jadi, jika Anda sering merasa diri sudah sangat besar, mungkin Anda perlu ikut mereka yang bermain di �playing ground� yang lebih besar.








3. Segala hal besar dibangun dengan komponen-komponen kecil
















Sebesar apa rumah tinggal Anda? Tidak akan sebesar itu tanpa butiran-butiran pasir. Sebesar apa perusahaan Anda? Tidak akan bisa besar seperti sekarang jika tidak ada �orang-orang kecil� yang mau bekerja untuk Anda. Seberapa besar gaji yang Anda terima? Tidak akan sebesar itu jika tanpa kontribusi orang-orang bergaji lebih kecil yang Anda pimpin. Faktanya, semua hal besar yang ada dalam kehidupan kita dibangun dengan komponen-komponen kecil. Semoga hal ini semakin memperkuat kesadaran kita bahwa kebesaran yang saat ini kita miliki adalah hasil dari kontribusi peran-peran kecil yang mungkin sering tidak kita sadari bahkan mungkin terabaikan. Dengan kesadaran ini, maka kita bisa menjadi pribadi yang tetap berpijak diatas bumi. Terutama ketika berhadapan dengan orang lain yang kita nilai �kecil� dihadapan kita.








4. Membangun rasa percaya diri
















Salah satu masalah yang paling sering menghambat kesuksesan seseorang adalah rendahnya rasa percaya diri. Percayalah, sekecil apapun peran yang bisa kita mainkan pasti akan memberi dampak yang besar jika kita melakukannya dengan kesungguhan. Cobalah perhatikan orang-orang yang paling sukses di kantor Anda. Sebagian terbesar mereka adalah �mantan orang kecil� seperti Anda beberapa belas atau puluhan tahun sebelumnya. Jadi, sungguh tidak relevan jika sekarang kita membanding-bandingkan diri dengan mereka. Berfokuslah dengan kemampuan diri Anda, mengoptimalkan penggunaannya, dan perbaikilah apa yang kurang didalamnya. Lama kelamaan, Anda akan memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan mereka yang sudah menjadi besar. Bahkan, boleh jadi Anda bisa melampaui pencapaian mereka. Apakah Anda masih merasa minder dengan pencapaian kecil yang hari ini Anda dapatkan? Jika demikian, pupuklah rasa percaya diri Anda. Dan berfokuslah untuk mengaktualisasikan hal terbaik didalam diri Anda, dalam setiap karya yang Anda persembahkan.




5. Hal-hal kecil yang konsisten lebih berdampak daripada hal besar sekali tembak
















Dalam banyak hal, kita sering tergoda untuk melakukan sesuatu yang �besar� namun angin-anginan. Ketika semangat kita sedang memuncak, kita begitu menggebu-gebunya melakukan sesuatu. Begitu kita bosan? Kita mencampakkannya begitu saja. Pergilah ke fitness center setahun sekali. Lalu berolah ragalah sampai seluruh tenaga Anda terkuras habis dan setiap tetes keringat Anda mengering. Alih-alih menjadi sehat, Anda malah beresiko terkena serangan jantung. Begitu pula dalam aspek kehidupan kita yang lainnya. Kita tidak akan mungkin menghasilkan sesuatu yang benar-benar berdampak dengan melakukan hal besar sekali tembak. Melakukan hal kecil secara konsisten, itulah yang bisa membangun kemampuan terbesar kita. Membaca buku bagus, misalnya. Jika langsung lahap semuanya, maka kepala Anda akan pusing. Tetapi jika dicerna perlahan-lahan; Anda akan mampu memahaminya dengan baik. Saat menjalani hidup, lebih baik melakukan hal-hal kecil secara konsisten daripada mengerjakan hal besar namun hanya sekali tembak.












Berpikir kecil bisa membantu kita untuk menuju kepada pencaian yang semakin tinggi. Pada saat yang sama, berpikir kecil juga menjaga diri kita untuk tetap berada dalam sikap bersahaja dan kerendahan hati. Sebab, dengan berpikir kecil; kita tetap bisa melihat peran orang-orang kecil. Dan semakin hari, kita semakin menyadari bahwa sebesar apapun kita, sungguh sangat kecil dihadapan Dia Yang Maha Besar.








Mereka yang memiliki pencapaian tinggi namun tetap rendah hati, jauh lebih indah perangainya dibandingkan mereka yang sudah merasa dirinya terlalu besar untuk mengakui peran orang-orang kecil terhadap kebesaran dirinya.








Mari Berbagi Semangat!


Jumat, 05 Agustus 2011

Biasa Itu NGGA Keren!


Satu kalimat yang pernah diucapkan My Dad ke saya, "Di Indonesia, kalau kamu bekerja sedikiiiit aja lebih keras (dari apa yang biasanya kamu lakukan), kamu akan jauhhhhhh di atas rata-rata."




Saya sempat ngga ngerti ketika pertama kali dengar pesan itu. Tapi setelah saya sudah bekerja beberapa tahun, saya baru ngerti apa maksudnya.

Gamblangnya: Orang Indonesia itu malas-malas!


http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/50554_103127322730_1444517_n.jpg

Mungkin banyak dari Agan yang ngga setuju. Kalau dari sudut pandang saya, saya sangat setuju dengan pesan itu. Karena saya sudah coba buktikan; saya coba untuk selalu bekerja semaksimal mungkin. Mencoba menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari pengharapan Atasan, mencoba menyelesaikan pekerjaan tanpa kesalahan (salah ketik, salah ngitung, dsb), dan mencoba membuat laporan serapih dan sejelas mungkin. Saya lakukan ini bertahun-tahun, dan di perusahaan tempat saya bekerja pertama kali, sayalah yang selalu dipilih untuk dipromosikan ke jabatan-jabatan yang lebih tinggi.


Masuk di Nike sebagai Assistat Product Line Manager untuk Footwear, 1 tahun kemudian menjadi Product Line Manager untuk Footwear, 6 bulan kemudian jadi Product Line Manager untuk Footwear-Apparel-Accessories-Equipment. 1 tahun kemudian dipercaya membawa Umbro ke Indonesia serta menciptakan merek League dari nol. 1 tahun kemudian, dipromosikan menjadi Sales & Marketing Manager untuk merek-merek tersebut. Kemudian saya 'loncat' ke Oakley untuk menjadi GM, ketika umur 26 tahun. Jadi, ketika itu, saya baru berkarir selama 4.5tahun...


Itu perjalanan karir saya secara singkat. Tidak ada maksud untuk menyombongkan, saya hanya mau tekankan bahwa pesan yang disampaikan My Dad itu benar.


Sesungguhnya, itu adalah fakta yang menyedihkan. Betapa tidak? Kan artinya ya itu tadi: Orang Indonesia itu malas-malas.


Makanya, menurut saya, biasa itu ngga keren. Cobalah untuk menjadi yang luar biasa. Kalau mau jadi social-entrepreneur, jadilah social-entrepreneur yang berhasil, jadi bisa membantu banyak orang. Kalau mau jadi entrepreneur, jadilah yang berhasil, supaya kalau udah kaya raya, bisa bantu banyak orang lain yang membutuhkan. Kalau jadi guru/dosen, jadilah guru/dosen yang berhasil mendidik dan 'menciptakan' orang-orang besar untuk Bangsa ini...dan seterusnya.


Berusahalah sedikit lebih keras (lagi) untuk setiap pekerjaan yang Agan lakukan secara konsisten... dan lihat sendiri deh nanti hasilnya.


http://dindin.sociomark.com/wp-content/uploads/2011/07/vladstudio_pesan_moral_ibadah-150x150.jpg

Biasa itu NGGA Keren!


See you ON TOP!


http://bsure.blogdetik.com/files/2008/11/giving.JPG

Biasa Itu NGGA Keren!


Satu kalimat yang pernah diucapkan My Dad ke saya, "Di Indonesia, kalau kamu bekerja sedikiiiit aja lebih keras (dari apa yang biasanya kamu lakukan), kamu akan jauhhhhhh di atas rata-rata."




Saya sempat ngga ngerti ketika pertama kali dengar pesan itu. Tapi setelah saya sudah bekerja beberapa tahun, saya baru ngerti apa maksudnya.

Gamblangnya: Orang Indonesia itu malas-malas!


http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/50554_103127322730_1444517_n.jpg

Mungkin banyak dari Agan yang ngga setuju. Kalau dari sudut pandang saya, saya sangat setuju dengan pesan itu. Karena saya sudah coba buktikan; saya coba untuk selalu bekerja semaksimal mungkin. Mencoba menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari pengharapan Atasan, mencoba menyelesaikan pekerjaan tanpa kesalahan (salah ketik, salah ngitung, dsb), dan mencoba membuat laporan serapih dan sejelas mungkin. Saya lakukan ini bertahun-tahun, dan di perusahaan tempat saya bekerja pertama kali, sayalah yang selalu dipilih untuk dipromosikan ke jabatan-jabatan yang lebih tinggi.


Masuk di Nike sebagai Assistat Product Line Manager untuk Footwear, 1 tahun kemudian menjadi Product Line Manager untuk Footwear, 6 bulan kemudian jadi Product Line Manager untuk Footwear-Apparel-Accessories-Equipment. 1 tahun kemudian dipercaya membawa Umbro ke Indonesia serta menciptakan merek League dari nol. 1 tahun kemudian, dipromosikan menjadi Sales & Marketing Manager untuk merek-merek tersebut. Kemudian saya 'loncat' ke Oakley untuk menjadi GM, ketika umur 26 tahun. Jadi, ketika itu, saya baru berkarir selama 4.5tahun...


Itu perjalanan karir saya secara singkat. Tidak ada maksud untuk menyombongkan, saya hanya mau tekankan bahwa pesan yang disampaikan My Dad itu benar.


Sesungguhnya, itu adalah fakta yang menyedihkan. Betapa tidak? Kan artinya ya itu tadi: Orang Indonesia itu malas-malas.


Makanya, menurut saya, biasa itu ngga keren. Cobalah untuk menjadi yang luar biasa. Kalau mau jadi social-entrepreneur, jadilah social-entrepreneur yang berhasil, jadi bisa membantu banyak orang. Kalau mau jadi entrepreneur, jadilah yang berhasil, supaya kalau udah kaya raya, bisa bantu banyak orang lain yang membutuhkan. Kalau jadi guru/dosen, jadilah guru/dosen yang berhasil mendidik dan 'menciptakan' orang-orang besar untuk Bangsa ini...dan seterusnya.


Berusahalah sedikit lebih keras (lagi) untuk setiap pekerjaan yang Agan lakukan secara konsisten... dan lihat sendiri deh nanti hasilnya.


http://dindin.sociomark.com/wp-content/uploads/2011/07/vladstudio_pesan_moral_ibadah-150x150.jpg

Biasa itu NGGA Keren!


See you ON TOP!


http://bsure.blogdetik.com/files/2008/11/giving.JPG