Tampilkan postingan dengan label dunia science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia science. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

7 Karya Arsitektur Kuno Yang Menakjubkan

Bangga akan apa yang kita capai dalam kemajuan IPTEK. Mungkin kita mengira bahwa pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan lainnya merupakan teknologi canggih yang ditemukan oleh para ilmuwan di zaman modern ini. Tetapi, kita pasti tidak mengira bahwa desain teknologi yang mirip sudah lebih dulu diciptakan oleh peradaban zaman dahulu.

1. Desain Kincir Angin
Kincir angin Persia kuno merupakan salah satu kincir angin tertua yang pernah dibuat oleh manusia. Kincir angin ini dibuat oleh peradaban Persia sekitar 3000 tahun yang lalu. Kincir angin ini digunakan untuk menggiling gandum dan memompa air.

1.DESAIN KINCIR ANGIN KUNO

Tanaman alang - alang diikat menjadi satu sehingga terbentuk bantalan yang diletakkan di sumbu pusat. Kincir angin ini dibuat dengan hati - hati, karena hampir setiap bagian dibuat dengan tangan.

Walaupun mekanismenya sederhana, tetapi kincir angin ini telah dikenal oleh seluruh peradaban lainnya pada masa itu, dan beberapa negara masih menggunakan mekanisme seperti ini hingga di era modern ini. Bisa dibilang, kincir angin kuno ini merupakan cikal bakal kincir angin modern yang digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga angin.

2. Menara Angin Persia
Masih dari peradaban Persia kuno, menara angin atau wind tower ini digunakan oleh masyarakat Persia untuk sistem ventilasi udara di rumah - rumah mereka. Sistem ventilasi mereka jauh lebih rumit dari sistem ventilasi yang ada di rumah kita.

2.MENARA ANGIN PERSIA KUNO

Sistem ventilasi yang mereka kembangkan sejak 2.000 tahun yang lalu ini mungkin hanya bisa disaingi oleh sistem ventilasi dengan teknologi modern. Prinsipnya adalah dengan menggunakan kombinasi perbedaan tekanan udara, dan penyesuaian iklim lingkungan di daerah Persia.

3. Saluran Air Grafitasi Romawi
3.SALURAN AIR GRAVITASI ROMAWI KUNO

Bangsa Romawi kuno juga mengembangkan suatu saluran air yang memanfaatkan gravitasi bumi untuk mengalirkan air ke seluruh wilayah Romawi. Selain digunakan untuk mengalirkan air, saluran air gravitasi ini juga digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakatnya, diantaranya untuk roda air, hidrolik penghancur bijih besi, dan lain - lain.

4. Saluran Bawah Tanah
4.SALURAN BAWAH TANAH KUNO

Karena Yerussalem terletak di dataran tinggi dan jauh dari sumber air, maka kota ini memenuhi kebutuhan air dari sungai bawah tanah. Masyarakatnya telah mengembangkan suatu saluran air bawah tanah yang masih bisa digunakan hingga saat ini, meski telah berumur puluhan ribu tahun.

5. Pemanfaatan Energi Geothermal
Peradaban Romawi kuno telah memanfaatkan energi panas bumi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Energi panas bumi berasal dari gunung berapi Vesuvius, yang kemudian memanaskan air di sekitar wilayah tersebut.

5.PEMANFAATAN

Panas yang dihasilkan tadi kemudian digunakan untuk berbagai hal, seperti untuk pemandian air panas, hidrolik, kebutuhan medis, dan lainnya. Jika listrik telah ditemukan pada masa itu, mungkin sumber energi ini bisa dimanfaatkan lebih luas lagi.

6. Pemanfaatan Energi Surya
Pemanfaatan energi surya telah ditemukan oleh peradaban Yunani kuno. Jika kita menggunakan sel surya sebagai pembangkit tenaga listrik, maka peradaban Yunani kuno menggunakannya sebagai cadangan panas selama musim dingin berlangsung.

6.PEMANFAATAN

Konsepnya begitu sederhana, mereka membuat bangunan yang menghadap ke arah matahari, dan seluruh bangunan didesain seperti itu untuk menangkap sinar matahari sebanyak - banyaknya di siang hari karena sinar matahari lebih rendah dari atap mereka.

Ketika di malam hari, seluruh Peradaban Romawi selangkah lebih maju dengan menambahkan kaca untuk menyerap panas matahari dengan maksimal. Ternyata pemanfaatan tenaga surya itu sudah ada sejak lama ya.

7. Istana Tebing (Cliff Palace)
Tempat yang disebut dengan Istana Tebing ini terletak di Mesa Verde National Park, Colorado. Bangunan unik ini dibangun oleh masyarakat Amerika Utara pada zaman dahulu. Desain konstruksi yang unik ini memiliki tujuan sebagai pendinginan dari sengatan matahari yang panas pada masa itu.

7. ISTANA TEBING ( Cliff

Kita tidak bisa meremehkan begitu saja bangunan - bangunan zaman dahulu. Terkadang, dengan teknologi modern sekalipun, belum tentu dapat menghasilkan bangunan serupa dengan fungsi yang sama pula. Arsitektur zaman kuno memang luar biasa, menandakan bahwa pencapaian ilmu pengetahuan pada masa itu tergolong maju.

7 Karya Arsitektur Kuno Yang Menakjubkan

Bangga akan apa yang kita capai dalam kemajuan IPTEK. Mungkin kita mengira bahwa pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan lainnya merupakan teknologi canggih yang ditemukan oleh para ilmuwan di zaman modern ini. Tetapi, kita pasti tidak mengira bahwa desain teknologi yang mirip sudah lebih dulu diciptakan oleh peradaban zaman dahulu.

1. Desain Kincir Angin
Kincir angin Persia kuno merupakan salah satu kincir angin tertua yang pernah dibuat oleh manusia. Kincir angin ini dibuat oleh peradaban Persia sekitar 3000 tahun yang lalu. Kincir angin ini digunakan untuk menggiling gandum dan memompa air.

1.DESAIN KINCIR ANGIN KUNO

Tanaman alang - alang diikat menjadi satu sehingga terbentuk bantalan yang diletakkan di sumbu pusat. Kincir angin ini dibuat dengan hati - hati, karena hampir setiap bagian dibuat dengan tangan.

Walaupun mekanismenya sederhana, tetapi kincir angin ini telah dikenal oleh seluruh peradaban lainnya pada masa itu, dan beberapa negara masih menggunakan mekanisme seperti ini hingga di era modern ini. Bisa dibilang, kincir angin kuno ini merupakan cikal bakal kincir angin modern yang digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga angin.

2. Menara Angin Persia
Masih dari peradaban Persia kuno, menara angin atau wind tower ini digunakan oleh masyarakat Persia untuk sistem ventilasi udara di rumah - rumah mereka. Sistem ventilasi mereka jauh lebih rumit dari sistem ventilasi yang ada di rumah kita.

2.MENARA ANGIN PERSIA KUNO

Sistem ventilasi yang mereka kembangkan sejak 2.000 tahun yang lalu ini mungkin hanya bisa disaingi oleh sistem ventilasi dengan teknologi modern. Prinsipnya adalah dengan menggunakan kombinasi perbedaan tekanan udara, dan penyesuaian iklim lingkungan di daerah Persia.

3. Saluran Air Grafitasi Romawi
3.SALURAN AIR GRAVITASI ROMAWI KUNO

Bangsa Romawi kuno juga mengembangkan suatu saluran air yang memanfaatkan gravitasi bumi untuk mengalirkan air ke seluruh wilayah Romawi. Selain digunakan untuk mengalirkan air, saluran air gravitasi ini juga digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakatnya, diantaranya untuk roda air, hidrolik penghancur bijih besi, dan lain - lain.

4. Saluran Bawah Tanah
4.SALURAN BAWAH TANAH KUNO

Karena Yerussalem terletak di dataran tinggi dan jauh dari sumber air, maka kota ini memenuhi kebutuhan air dari sungai bawah tanah. Masyarakatnya telah mengembangkan suatu saluran air bawah tanah yang masih bisa digunakan hingga saat ini, meski telah berumur puluhan ribu tahun.

5. Pemanfaatan Energi Geothermal
Peradaban Romawi kuno telah memanfaatkan energi panas bumi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Energi panas bumi berasal dari gunung berapi Vesuvius, yang kemudian memanaskan air di sekitar wilayah tersebut.

5.PEMANFAATAN

Panas yang dihasilkan tadi kemudian digunakan untuk berbagai hal, seperti untuk pemandian air panas, hidrolik, kebutuhan medis, dan lainnya. Jika listrik telah ditemukan pada masa itu, mungkin sumber energi ini bisa dimanfaatkan lebih luas lagi.

6. Pemanfaatan Energi Surya
Pemanfaatan energi surya telah ditemukan oleh peradaban Yunani kuno. Jika kita menggunakan sel surya sebagai pembangkit tenaga listrik, maka peradaban Yunani kuno menggunakannya sebagai cadangan panas selama musim dingin berlangsung.

6.PEMANFAATAN

Konsepnya begitu sederhana, mereka membuat bangunan yang menghadap ke arah matahari, dan seluruh bangunan didesain seperti itu untuk menangkap sinar matahari sebanyak - banyaknya di siang hari karena sinar matahari lebih rendah dari atap mereka.

Ketika di malam hari, seluruh Peradaban Romawi selangkah lebih maju dengan menambahkan kaca untuk menyerap panas matahari dengan maksimal. Ternyata pemanfaatan tenaga surya itu sudah ada sejak lama ya.

7. Istana Tebing (Cliff Palace)
Tempat yang disebut dengan Istana Tebing ini terletak di Mesa Verde National Park, Colorado. Bangunan unik ini dibangun oleh masyarakat Amerika Utara pada zaman dahulu. Desain konstruksi yang unik ini memiliki tujuan sebagai pendinginan dari sengatan matahari yang panas pada masa itu.

7. ISTANA TEBING ( Cliff

Kita tidak bisa meremehkan begitu saja bangunan - bangunan zaman dahulu. Terkadang, dengan teknologi modern sekalipun, belum tentu dapat menghasilkan bangunan serupa dengan fungsi yang sama pula. Arsitektur zaman kuno memang luar biasa, menandakan bahwa pencapaian ilmu pengetahuan pada masa itu tergolong maju.

Alquran dan Sains: Indera Pendengaran dan Efeknya Terhadap Tidur

Alquran dan Sains: Indera Pendengaran dan Efeknya Terhadap Tidur

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Panca indera merupakan instrumen penting bagi manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Namun antara satu indera dengan indera yang lainnya terdapat perbedaan, ditinjau dari sisi mana yang terpenting bagi manusia dalam interaksinya. Ketika salah satu alat indera hilang, maka terdapat dua kemungkinan.

Pertama, pengaruhnya selain terkait dengan fungsi indera yang hilang tersebut, juga mempunyai pengaruh terhadap fungsi indera yang lainnya. Yang kedua, pengaruhnya hanya terkait dengan fungsi indera yang hilang tersebut dan tidak berpengaruh terhadap fungsi indera yang lainnya.

Panca indera manusia, sebagaimana yang kita ketahui meliputi lima indera, yaitu, penglihatan, pendengaran, penciuaman, peraba dan perasa. Untuk masing-masing indera terdapat sel-sel indera khusus yang bertanggungjawab untuk mengantarkan pengaruh yang datang dari luar tubuh ke pusat syarat yang terdapat di otak—melalui sel-sel perantara—sehingga pengaruh yang datang itu bisa cepat direspon.

Kelima indera yang dimiliki manusia ini harus bekerja secara padu dalam menjalankan fungsinya masing-masing sehingga manfaat dari panca indera ini bisa dicapai secara sempurna. Dan jika salah satu dari kelima indera ini kehilangan fungsinya, maka kesempurnaan indera ini tidak dapat dicapai.

Ciri yang menandakan bahwa suatu alat indera tidak bisa berfungsi secara sempurna, dapat diketahui secara langsung dengan memerhatikan tingkat kecepatan respon yang diberikan otak atas pengaruh yang sampai kepadanya. Kelambatan respon ini, terkadang bisa membawa akibat yang bisa membahayakan manusia.

Dalam kasus tertentu yang terjadi pada belbagai jenis makhluk hidup, disfungsi yang terjadi pada alat indranya, bisa mengakibatkan makhluk tersebut ‘tertidur’ dalam hitungan waktu yang bisa mencapai 100 tahun, sebagaimana yang terjadi pada serangga. Dan juga bisa menimpa manusia, cuma dalam hitungan waktu yang lebih sedikit. Yaitu yang disebut dengan ‘tidur’ (naum).

Berkaitan dengan fenomena ‘tidur’, beberapa ilmuwan telah melakukan penelitian guna memahami mekanisme dan pengaruh alat indera yang dimilikinya terhadap aktifitas ‘istirahat’ ini.

Salah satu kesimpulan dari penelitan-penelitian itu menyatakan bahwa indera pendengaran memiliki pengaruh yang besar, kaitannya dengan aktifitas tidur berbagai makhluk hidup. Yang kami maksud dengan indera pendengaran ini, adalah bagian organ tubuh yang berinteraksi dengan bunyi-bunyian dan suara yang berfungsi untuk merubah suara-suara tersebut menjadi getaran listrik yang dapat direspon oleh pusat syaraf pendengaran yang terdapat di otak.

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan juga, bahwa aktifitas tidur sulit dilakukan, jika alat indera pendengaran yang dimiliki makhluk hidup tersebut masih aktif dalam menerima dan mengantarkan sinyal suara yang diterimanya serta dalam meresponnya. Adapun jika kedua fungsi atau salah satunya menurun, maka aktifitas tidur, relatif mudah dilakukan.

Kesimpulan ini tidak bertentangan dengan fungsi indera pendengaran yang dimiliki sebagian makhluk yang tidak tahan terhadap sinar (Allaa Dhou-iyyah) dan mempunyai kebiasaan untuk hidup dalam kegelapan. Karena pada dasarnya, aktifitas ‘tidur’ jenis makhluk ini, sama dengan tidurnya jenis makhluk lainnya (adh-Dou-iyyah), meskipun berbeda dalam mekanismenya dan dalam fungsi pengantaran sinyal suara dan responnya.

Pada sebagian makhluk hidup, indera pendengaran ini merupakan alat indera terpenting dalam dinamika kehidupannya, yang dengannya ia dapat cepat merespon setiap pengaruh yang datang dari luar tubuhnya sesuai lingkungannya masing-masing. Dengan perbedaan tertentu antara satu jenis makhluk dengan jenis makhluk lainnya dan antara makhluk sejenis.

Selanjutnya, jika kita telah mengetahui peranan penting yang dimiliki oleh indera pendengaran ini dan pengaruhnya terhadap aktifitas ‘tidur’, sesuai dengan hasil penelitian di bidang anatomi tubuh dan fungsinya, maka kita dapatkan Alquran, sejak 14 abad yang lalu telah memberikan petunjuknya, berkaitan dengan hal ini, yaitu pada surah Al-Kahfi ayat 11. Allah SWT berfirman: "Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu."

Ayat di atas memberikan isyarat akan peranan penting yang dimainkan oleh indera pendengaran, kaitannya dengan aktifitas tidur. Bahkan jika kita mau memerhatikan maksud ayat ini lebih jauh lagi, kita akan mendapatkan bahwa ayat di atas, memberi petunjuk tentang teknik membuat manusia kehilangan kesadarannya akan lingkungan yang mengelilinginya, yaitu dengan melakukan isolasi pada bagian tengah telinganya. Hal ini sebagaimana dalam pilihan kata pada ayat diatas yang menggunakan kata ‘ala aadzaanihim’, tidak dengan menggunakan kata ‘fii aadzaanihim’.

Alquran dan Sains: Indera Pendengaran dan Efeknya Terhadap Tidur

Alquran dan Sains: Indera Pendengaran dan Efeknya Terhadap Tidur

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Panca indera merupakan instrumen penting bagi manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Namun antara satu indera dengan indera yang lainnya terdapat perbedaan, ditinjau dari sisi mana yang terpenting bagi manusia dalam interaksinya. Ketika salah satu alat indera hilang, maka terdapat dua kemungkinan.

Pertama, pengaruhnya selain terkait dengan fungsi indera yang hilang tersebut, juga mempunyai pengaruh terhadap fungsi indera yang lainnya. Yang kedua, pengaruhnya hanya terkait dengan fungsi indera yang hilang tersebut dan tidak berpengaruh terhadap fungsi indera yang lainnya.

Panca indera manusia, sebagaimana yang kita ketahui meliputi lima indera, yaitu, penglihatan, pendengaran, penciuaman, peraba dan perasa. Untuk masing-masing indera terdapat sel-sel indera khusus yang bertanggungjawab untuk mengantarkan pengaruh yang datang dari luar tubuh ke pusat syarat yang terdapat di otak—melalui sel-sel perantara—sehingga pengaruh yang datang itu bisa cepat direspon.

Kelima indera yang dimiliki manusia ini harus bekerja secara padu dalam menjalankan fungsinya masing-masing sehingga manfaat dari panca indera ini bisa dicapai secara sempurna. Dan jika salah satu dari kelima indera ini kehilangan fungsinya, maka kesempurnaan indera ini tidak dapat dicapai.

Ciri yang menandakan bahwa suatu alat indera tidak bisa berfungsi secara sempurna, dapat diketahui secara langsung dengan memerhatikan tingkat kecepatan respon yang diberikan otak atas pengaruh yang sampai kepadanya. Kelambatan respon ini, terkadang bisa membawa akibat yang bisa membahayakan manusia.

Dalam kasus tertentu yang terjadi pada belbagai jenis makhluk hidup, disfungsi yang terjadi pada alat indranya, bisa mengakibatkan makhluk tersebut ‘tertidur’ dalam hitungan waktu yang bisa mencapai 100 tahun, sebagaimana yang terjadi pada serangga. Dan juga bisa menimpa manusia, cuma dalam hitungan waktu yang lebih sedikit. Yaitu yang disebut dengan ‘tidur’ (naum).

Berkaitan dengan fenomena ‘tidur’, beberapa ilmuwan telah melakukan penelitian guna memahami mekanisme dan pengaruh alat indera yang dimilikinya terhadap aktifitas ‘istirahat’ ini.

Salah satu kesimpulan dari penelitan-penelitian itu menyatakan bahwa indera pendengaran memiliki pengaruh yang besar, kaitannya dengan aktifitas tidur berbagai makhluk hidup. Yang kami maksud dengan indera pendengaran ini, adalah bagian organ tubuh yang berinteraksi dengan bunyi-bunyian dan suara yang berfungsi untuk merubah suara-suara tersebut menjadi getaran listrik yang dapat direspon oleh pusat syaraf pendengaran yang terdapat di otak.

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan juga, bahwa aktifitas tidur sulit dilakukan, jika alat indera pendengaran yang dimiliki makhluk hidup tersebut masih aktif dalam menerima dan mengantarkan sinyal suara yang diterimanya serta dalam meresponnya. Adapun jika kedua fungsi atau salah satunya menurun, maka aktifitas tidur, relatif mudah dilakukan.

Kesimpulan ini tidak bertentangan dengan fungsi indera pendengaran yang dimiliki sebagian makhluk yang tidak tahan terhadap sinar (Allaa Dhou-iyyah) dan mempunyai kebiasaan untuk hidup dalam kegelapan. Karena pada dasarnya, aktifitas ‘tidur’ jenis makhluk ini, sama dengan tidurnya jenis makhluk lainnya (adh-Dou-iyyah), meskipun berbeda dalam mekanismenya dan dalam fungsi pengantaran sinyal suara dan responnya.

Pada sebagian makhluk hidup, indera pendengaran ini merupakan alat indera terpenting dalam dinamika kehidupannya, yang dengannya ia dapat cepat merespon setiap pengaruh yang datang dari luar tubuhnya sesuai lingkungannya masing-masing. Dengan perbedaan tertentu antara satu jenis makhluk dengan jenis makhluk lainnya dan antara makhluk sejenis.

Selanjutnya, jika kita telah mengetahui peranan penting yang dimiliki oleh indera pendengaran ini dan pengaruhnya terhadap aktifitas ‘tidur’, sesuai dengan hasil penelitian di bidang anatomi tubuh dan fungsinya, maka kita dapatkan Alquran, sejak 14 abad yang lalu telah memberikan petunjuknya, berkaitan dengan hal ini, yaitu pada surah Al-Kahfi ayat 11. Allah SWT berfirman: "Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu."

Ayat di atas memberikan isyarat akan peranan penting yang dimainkan oleh indera pendengaran, kaitannya dengan aktifitas tidur. Bahkan jika kita mau memerhatikan maksud ayat ini lebih jauh lagi, kita akan mendapatkan bahwa ayat di atas, memberi petunjuk tentang teknik membuat manusia kehilangan kesadarannya akan lingkungan yang mengelilinginya, yaitu dengan melakukan isolasi pada bagian tengah telinganya. Hal ini sebagaimana dalam pilihan kata pada ayat diatas yang menggunakan kata ‘ala aadzaanihim’, tidak dengan menggunakan kata ‘fii aadzaanihim’.