Tampilkan postingan dengan label tips - trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips - trik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

Tips Sukses Tebar Pesona di Dunia Maya

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnRV1JiIUcALbtqxWs39ux6wzYfTWElJDQOlpn5DVtMZB-_KrSpYmQFr6Xg3auwpyYSOY_mI4imcZ1aMk6xJlrkpKxlAsBE3z6FqVxAh3X5DtivDIoCpYail1ff3HzVkcUXIWvn1y2S38/s320/A+dunia-maya1.jpg

1.What works online
Untuk wanita, cobalah memasang foto dengan tatapan mata langsung ke kamera.
In real life
Buat kontak mata sedini mungkin pada awal kencan pertama. Tatapan mata yang dalam selalu menggugah. Dijamin.

2.
What works online
Informasi diri yang singkat. Tidak bertele-tele.
In real life
Jangan terlalu asik bercerita tentang diri sendiri. Tanyakan kepada pasangan kencan Anda tentang hidup dan hal-hal favoritnya. Ini akan menunjukkan bahwa Anda benar-benar tertarik padanya.

3
What works online
Keterangan tentang rutinitas sehari-hari dan foto-foto perjalanan. Bukan foto-foto berkesan glamor dan berlebihan.
In real life
Jadilah diri sendiri. Orang lain ingin tahu pribadi Anda yang sebenarnya, bukan kesan yang ingin diproyeksikan. Jangan bergaya seksi, tetapi jadilah seksi! Be authentic.

Tips Sukses Tebar Pesona di Dunia Maya

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnRV1JiIUcALbtqxWs39ux6wzYfTWElJDQOlpn5DVtMZB-_KrSpYmQFr6Xg3auwpyYSOY_mI4imcZ1aMk6xJlrkpKxlAsBE3z6FqVxAh3X5DtivDIoCpYail1ff3HzVkcUXIWvn1y2S38/s320/A+dunia-maya1.jpg

1.What works online
Untuk wanita, cobalah memasang foto dengan tatapan mata langsung ke kamera.
In real life
Buat kontak mata sedini mungkin pada awal kencan pertama. Tatapan mata yang dalam selalu menggugah. Dijamin.

2.
What works online
Informasi diri yang singkat. Tidak bertele-tele.
In real life
Jangan terlalu asik bercerita tentang diri sendiri. Tanyakan kepada pasangan kencan Anda tentang hidup dan hal-hal favoritnya. Ini akan menunjukkan bahwa Anda benar-benar tertarik padanya.

3
What works online
Keterangan tentang rutinitas sehari-hari dan foto-foto perjalanan. Bukan foto-foto berkesan glamor dan berlebihan.
In real life
Jadilah diri sendiri. Orang lain ingin tahu pribadi Anda yang sebenarnya, bukan kesan yang ingin diproyeksikan. Jangan bergaya seksi, tetapi jadilah seksi! Be authentic.

Sabtu, 27 Agustus 2011

[Must Know] Rokok vs Ekonomi: Mitos dan Fakta

Mitos : Industri rokok memberikan kontribusi pemasukan negara dengan jumlah besar.


Fakta:

Negara membayar biaya lebih besar untuk rokok dibanding dgn pemasukan yg diterimanya dr industri rokok. Penelitian dari World Bank tlh mmbuktikn bhw rokok mrpkn kerugian mutlak bagi hampir seluruh negara. Pemasukan yg diterima negara dr industri rokok (pajak dn sebagainya) mgkn sj berjumlah bsr, tp kerugian langsung dn tdk lsg yg diebabkn konsumsi rokok jauh lbh bsr.

Biaya tinggi hrs dkeluarkn utk mmbayar biaya penyembuhan penyakit yg dsebabkn oleh rokok, absen dr bekerja, hilangnya produktifitas dan pemasukan, kematian prematur, dn jg mmbuat org mnjdi miskin lbh lama krn mrk menghabiskn uangny utk mmbeli rokok.

Biaya bsr lainny yg tdk mudah utk djabarkan trmsk berkurangny kualitas hidup para perokok dn mrk yg menjadi perokok pasif. Selain itu penderitaan jg bagi mrk yg hrs kehilangan org yg dcintainya krn merokok. Smua ini mrpkn biaya tinggi yg hrs ditanggung.








Mitos : Mengurangi konsumsi rokok merupakan isu yang hanya bisa diatasi oleh negara-negara kaya.


Fakta:

Sekarang ini kurang lebih 80% perokok hidup di negara berkembang dan angka ini sudah tumbuh pesat dalam beberapa dekade saja. Diperkirakan pada tahun 2020, 70% dari seluruh kematian yang disebabkan rokok akan terjadi di negara-negara berkembang, naik dari tingkatan sekarang ini yaitu 50%. Ini berarti dalam beberapa dekade yang akan datang negara-negara berkembang akan berhadapan dengan biaya yang semakin tinggi untuk membiayai perawatan kesehatan para perokok dan hilangnya produktifitas.








Mitos : Pengaturan yang lebih ketat terhadap industri rokok akan berakibat hilangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau dan pabrik rokok.


Fakta:

Prediksi mengindikasikan dengan jelas bahwa konsumsi rokok global akan meningkat dalam tiga dekade ke depan, walau dengan penerapan pengaturan tembakau di seluruh dunia. Memang dengan berkurangnya konsumsi rokok, maka suatu saat akan mengakibatkan berkurangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau. Tp ini terjadi dlm hitungan dekade, bukan semalam. Oleh karenanya pemerintah akan mempunyai banyak kesempatan untuk merencanakan peralihan yang berkesinambungan dan teratur.

Para ekonom independent yang sudah mempelajari klaim industri rokok, berkesimpulan bahwa industri rokok sangat membesar-besarkan potensi kehilangan pekerjaan dari pengaturan rokok yang lebih ketat. Di banyak negara produksi rokok hanyalah bagian kecil dari ekonomi mereka. Penelitian yang dilakukan oleh World Bank mendemonstrasikan bahwa pada umumnya negara tidak akan mendapatkan pengangguran baru bila konsumsi rokok dikurangi. Beberapa negara malah akan memperoleh keuntungan baru karena konsumen rokok akan mengalokasikan uangnya untuk membeli barang dan jasa lainnya. Hal ini tentunya akan membuka kesempatan untuk terciptanya lapangan kerja baru.








Mitos : Pemerintah akan kehilangan pendapatan jika mereka menaikan pajak terhadap industri rokok karena makin sedikit orang yang akan membeli rokok.


Fakta:

Bukti sudah jelas: perhitungan menunjukkan bahwa pajak yang tinggi memang akan menurunkan konsumsi rokok tetapi tidak mengurangi pendapatan pemerintah, malah sebaliknya. Ini bisa terjadi karena jumlah turunnya konsumen rokok tidak sebanding dengan besaran kenaikan pajak. Konsumen yang sudah kecanduan rokok biasanya akan lambat menanggapi kenaikan harga (akan tetap membeli). Lebih jauh, jumlah uang yang disimpan oleh mereka yang berhenti merokok akan digunakan untuk membeli barang-barang lain (pemerintah akan tetap menerima pemasukan). Pengalaman mengatakan bahwa menaikkan pajak rokok, betapapun tingginya, tidak pernah menyebabkan berkurangnya pendapatan pemerintah.








Mitos : Pajak rokok yang tinggi akan menyebabkan penyelundupan.


Fakta:

Industri rokok sering berargumentasi bahwa pajak yang tinggi akan mendorong penyelundupan rokok dari negara dengan pajak rokok yang lebih rendah, yang ujungnya akan membuat konsumsi rokok lebih tinggi dan mengurangi pendapatan pemerintah.

Walaupun penyelundupan merupakan hal yg serius, laporan Bank Dunia tahun 1999 Curbing the Epidemic tetap menyimpulkan bahwa pajak rokok yang tinggi akn menekan konsumsi rokok serta menaikkan pendapatan pemerintah. Langkah yg tepat bagi pemerintah adalah memerangi kejahatan dan bukannya mengorbankan kenaikan pajak pada rokok.

Selain itu ad klaim-klaim yg mengatakan bhw industri rokok jg terlibat dalam penyelundupan rokok. Klaim seperti ini patut disikapi dgn serius.








Mitos : Kecanduan rokok sudah sedemikian tinggi, menaikkan pajak rokok tidak akan mengurangi permintaan rokok. Oleh karenanya menaikkan pajak rokok tidak perlu.


Fakta:

Menaikkan pajak rokok akn mengurangi jumlah perokok dn mengurangi kematian yg disebabkan oleh rokok. Kenaikan harga rokok akn membuat sejumlah perokok utk berhenti dn mencegah lainnya utk mnjd perokok atau mencegah lainnya menjadi perokok tetap. Kenaikan pajak rokok juga akan mengurangi jumlah org yg kembali merokok dn mengurangi konsumsi rokok pd orang2 yg masih merokok. Anak2 dn remaja mrpkn kelompok yg sensitif thdp kenaikan harga rokok oleh karenanya mrk akn mengurangi pembelian rokok bila pajak rokok dinaikkan.

Selain itu orang2 dgn pendapat rendah jg lbh sensitif thdp kenaikan harga, oleh karenanya kenaikan pajak rokok akan berpengaruh besar terhadap pembelian rokok di negara-negara berkembang.

Model yg dikembangkan oleh Bank Dunia dlm laporannya Curbing the Epidemic menunjukkan kenaikan hrg rokok sebanyak 10% karena naiknya pajak rokok, akn membuat 40 juta orang yg hdp di tahun 1995 utk berhenti merokok dn mencegah sedikitnya 10 juta kematian akibat rokok.








Mitos : Pemerintah tidak perlu menaikkan pajak rokok karena kenaikan tersebut akan merugikan konsumen berpendapatan rendah.


Fakta:

Perusahaan rokok berargumen bahwa harga rokok tdk seharusnya dinaikkan krn bila bgtu akn merugikan konsumen berpendapatan rendah. Tetapi, penelitian menunjukkan bhw masyarakat berpendapatan rendah merupakan korban rokok yg paling dirugikan. Krn rokok akn memperberat beban kehidupan, meningkatkan kematian, menaikkan biaya perawatan kesehatan yg hrs mereka tanggung dan gaji yg terbuang utk membeli rokok.

Masyarakat berpendapatan rendah plg bs diuntungkan oleh harga rokok yg mahal krna akn membuat mrk lbh mudah berhenti merokok, mengurangi, atau menghindari kecanduan rokok karena makin terbatasnya kemampuan mereka utk membeli. Keuntungan lain dr pajak rokok yg tinggi adlh bs digunakan utk program-program kesejahteraan masyarakat miskin.








Mitos : Perokok menanggung sendiri beban biaya dari merokok.


Fakta:

Perokok membebani yang bukan perokok. Bukti-bukti biaya yang harus ditanggung bukan perokok seperti biaya kesehatan, gangguan, dan iritasi yang didapatkan dari asap rokok. Ulasan di negara-negara kaya mengungkapkan bahwa perokok membebani asuransi kesehatan lebih besar daripada mereka yang tidak merokok (walaupun usia perokok biasanya lebih pendek). Apabila asuransi kesehatan dibayar oleh rakyat (seperti Jamsostek) maka para perokok tentunya ikut membebankan biaya akibat merokok kepada orang lain juga.














[Must Know] Rokok vs Ekonomi: Mitos dan Fakta

Mitos : Industri rokok memberikan kontribusi pemasukan negara dengan jumlah besar.


Fakta:

Negara membayar biaya lebih besar untuk rokok dibanding dgn pemasukan yg diterimanya dr industri rokok. Penelitian dari World Bank tlh mmbuktikn bhw rokok mrpkn kerugian mutlak bagi hampir seluruh negara. Pemasukan yg diterima negara dr industri rokok (pajak dn sebagainya) mgkn sj berjumlah bsr, tp kerugian langsung dn tdk lsg yg diebabkn konsumsi rokok jauh lbh bsr.

Biaya tinggi hrs dkeluarkn utk mmbayar biaya penyembuhan penyakit yg dsebabkn oleh rokok, absen dr bekerja, hilangnya produktifitas dan pemasukan, kematian prematur, dn jg mmbuat org mnjdi miskin lbh lama krn mrk menghabiskn uangny utk mmbeli rokok.

Biaya bsr lainny yg tdk mudah utk djabarkan trmsk berkurangny kualitas hidup para perokok dn mrk yg menjadi perokok pasif. Selain itu penderitaan jg bagi mrk yg hrs kehilangan org yg dcintainya krn merokok. Smua ini mrpkn biaya tinggi yg hrs ditanggung.








Mitos : Mengurangi konsumsi rokok merupakan isu yang hanya bisa diatasi oleh negara-negara kaya.


Fakta:

Sekarang ini kurang lebih 80% perokok hidup di negara berkembang dan angka ini sudah tumbuh pesat dalam beberapa dekade saja. Diperkirakan pada tahun 2020, 70% dari seluruh kematian yang disebabkan rokok akan terjadi di negara-negara berkembang, naik dari tingkatan sekarang ini yaitu 50%. Ini berarti dalam beberapa dekade yang akan datang negara-negara berkembang akan berhadapan dengan biaya yang semakin tinggi untuk membiayai perawatan kesehatan para perokok dan hilangnya produktifitas.








Mitos : Pengaturan yang lebih ketat terhadap industri rokok akan berakibat hilangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau dan pabrik rokok.


Fakta:

Prediksi mengindikasikan dengan jelas bahwa konsumsi rokok global akan meningkat dalam tiga dekade ke depan, walau dengan penerapan pengaturan tembakau di seluruh dunia. Memang dengan berkurangnya konsumsi rokok, maka suatu saat akan mengakibatkan berkurangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau. Tp ini terjadi dlm hitungan dekade, bukan semalam. Oleh karenanya pemerintah akan mempunyai banyak kesempatan untuk merencanakan peralihan yang berkesinambungan dan teratur.

Para ekonom independent yang sudah mempelajari klaim industri rokok, berkesimpulan bahwa industri rokok sangat membesar-besarkan potensi kehilangan pekerjaan dari pengaturan rokok yang lebih ketat. Di banyak negara produksi rokok hanyalah bagian kecil dari ekonomi mereka. Penelitian yang dilakukan oleh World Bank mendemonstrasikan bahwa pada umumnya negara tidak akan mendapatkan pengangguran baru bila konsumsi rokok dikurangi. Beberapa negara malah akan memperoleh keuntungan baru karena konsumen rokok akan mengalokasikan uangnya untuk membeli barang dan jasa lainnya. Hal ini tentunya akan membuka kesempatan untuk terciptanya lapangan kerja baru.








Mitos : Pemerintah akan kehilangan pendapatan jika mereka menaikan pajak terhadap industri rokok karena makin sedikit orang yang akan membeli rokok.


Fakta:

Bukti sudah jelas: perhitungan menunjukkan bahwa pajak yang tinggi memang akan menurunkan konsumsi rokok tetapi tidak mengurangi pendapatan pemerintah, malah sebaliknya. Ini bisa terjadi karena jumlah turunnya konsumen rokok tidak sebanding dengan besaran kenaikan pajak. Konsumen yang sudah kecanduan rokok biasanya akan lambat menanggapi kenaikan harga (akan tetap membeli). Lebih jauh, jumlah uang yang disimpan oleh mereka yang berhenti merokok akan digunakan untuk membeli barang-barang lain (pemerintah akan tetap menerima pemasukan). Pengalaman mengatakan bahwa menaikkan pajak rokok, betapapun tingginya, tidak pernah menyebabkan berkurangnya pendapatan pemerintah.








Mitos : Pajak rokok yang tinggi akan menyebabkan penyelundupan.


Fakta:

Industri rokok sering berargumentasi bahwa pajak yang tinggi akan mendorong penyelundupan rokok dari negara dengan pajak rokok yang lebih rendah, yang ujungnya akan membuat konsumsi rokok lebih tinggi dan mengurangi pendapatan pemerintah.

Walaupun penyelundupan merupakan hal yg serius, laporan Bank Dunia tahun 1999 Curbing the Epidemic tetap menyimpulkan bahwa pajak rokok yang tinggi akn menekan konsumsi rokok serta menaikkan pendapatan pemerintah. Langkah yg tepat bagi pemerintah adalah memerangi kejahatan dan bukannya mengorbankan kenaikan pajak pada rokok.

Selain itu ad klaim-klaim yg mengatakan bhw industri rokok jg terlibat dalam penyelundupan rokok. Klaim seperti ini patut disikapi dgn serius.








Mitos : Kecanduan rokok sudah sedemikian tinggi, menaikkan pajak rokok tidak akan mengurangi permintaan rokok. Oleh karenanya menaikkan pajak rokok tidak perlu.


Fakta:

Menaikkan pajak rokok akn mengurangi jumlah perokok dn mengurangi kematian yg disebabkan oleh rokok. Kenaikan harga rokok akn membuat sejumlah perokok utk berhenti dn mencegah lainnya utk mnjd perokok atau mencegah lainnya menjadi perokok tetap. Kenaikan pajak rokok juga akan mengurangi jumlah org yg kembali merokok dn mengurangi konsumsi rokok pd orang2 yg masih merokok. Anak2 dn remaja mrpkn kelompok yg sensitif thdp kenaikan harga rokok oleh karenanya mrk akn mengurangi pembelian rokok bila pajak rokok dinaikkan.

Selain itu orang2 dgn pendapat rendah jg lbh sensitif thdp kenaikan harga, oleh karenanya kenaikan pajak rokok akan berpengaruh besar terhadap pembelian rokok di negara-negara berkembang.

Model yg dikembangkan oleh Bank Dunia dlm laporannya Curbing the Epidemic menunjukkan kenaikan hrg rokok sebanyak 10% karena naiknya pajak rokok, akn membuat 40 juta orang yg hdp di tahun 1995 utk berhenti merokok dn mencegah sedikitnya 10 juta kematian akibat rokok.








Mitos : Pemerintah tidak perlu menaikkan pajak rokok karena kenaikan tersebut akan merugikan konsumen berpendapatan rendah.


Fakta:

Perusahaan rokok berargumen bahwa harga rokok tdk seharusnya dinaikkan krn bila bgtu akn merugikan konsumen berpendapatan rendah. Tetapi, penelitian menunjukkan bhw masyarakat berpendapatan rendah merupakan korban rokok yg paling dirugikan. Krn rokok akn memperberat beban kehidupan, meningkatkan kematian, menaikkan biaya perawatan kesehatan yg hrs mereka tanggung dan gaji yg terbuang utk membeli rokok.

Masyarakat berpendapatan rendah plg bs diuntungkan oleh harga rokok yg mahal krna akn membuat mrk lbh mudah berhenti merokok, mengurangi, atau menghindari kecanduan rokok karena makin terbatasnya kemampuan mereka utk membeli. Keuntungan lain dr pajak rokok yg tinggi adlh bs digunakan utk program-program kesejahteraan masyarakat miskin.








Mitos : Perokok menanggung sendiri beban biaya dari merokok.


Fakta:

Perokok membebani yang bukan perokok. Bukti-bukti biaya yang harus ditanggung bukan perokok seperti biaya kesehatan, gangguan, dan iritasi yang didapatkan dari asap rokok. Ulasan di negara-negara kaya mengungkapkan bahwa perokok membebani asuransi kesehatan lebih besar daripada mereka yang tidak merokok (walaupun usia perokok biasanya lebih pendek). Apabila asuransi kesehatan dibayar oleh rakyat (seperti Jamsostek) maka para perokok tentunya ikut membebankan biaya akibat merokok kepada orang lain juga.














Senin, 22 Agustus 2011

5 Godaan Ketika Berpuasa dan Cara Mengatasinya







https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixDM2QPtcJZUIhlv0eL6ArRQCFcD6ITMXsalUpHWILvWzTBkyMy2ISpnS6U5Zk495lg78CLPpunTgX6z4iamWqksgUxa3m-zDxPtnnqJIkzEJ-lIBkm6HlcV-U-iHYn8F3CTvvqj-kduP2/s1600/enak.jpg







Bulan Ramadan merupakan kesempatan bagi muslim seluruh dunia untuk meraih pahala melalui ibadah puasa. Agar ibadah tersebut berjalan lancar, terapkanlah strategi pola makan sehat dan tepat. Persisnya, untuk mengatasi lima "cobaan" puasa.







1. "Kalap" ketika Berbuka



Aksi "balas dendam" kerap dilakukan secara tidak sadar ketika berbuka puasa. Padahal, puasa melatih seseorang lebih bersabar menahan diri, termasuk nafsu menyantap makanan berlebihan. Pilihlah minuman dan makanan yang memiliki asupan elektrolik tinggi untuk menimalisir efek dehirasi. Makananlah secukupnya dan pilihlah buah-buahan sebagai pencuci mulut, hal ini dapat mengurangi "efek" bobot berlebih alias kegemukan usai berpuasa.







2. Lemas saat Berpuasa.



Dengan berpuasa kerja organ tubuh "diistirahatkan" selama 12 jam lebih. Alhasil, tubuh Anda secara otomatis beradaptasi menjadi mudah lemas dan mengantuk, terutama di minggu pertama puasa. Mengatasinya, konsumsilah makanan suplemen saat sahur seperti Vitamin C dan vitamin B, atau multivitamin yang mengandung zinc dan selenium. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk memilih suplemen yang tepat.







http://3.bp.blogspot.com/-hTInckEDLD8/TjwI7OTEbvI/AAAAAAAACkM/rXinkHedyIU/s1600/puasa.jpeg







3. Bau Mulut.



Aroma mulut yang kurang sedap kerap menjadi tantangan tersendiri saat berpuasa. Larangan minum membuat tubuh mengalami dehidrasi dan rongga mulut menjadi kering. Alhasil kadar air liur atau saliva mengalami penurunan dan membuat bakteri dalam mulut mudah berkembang biak. Santaplah menu makanan yang mengandung seledri, keju, jamur shiitake (sejenis jamur), dan biji wijen. Bahan tersebut mampu melindungi rongga mulut dan membunuh bakteri yang menimbulkan bau tidak sedap.







4. Sembelit atau Konstipasi.



Jeda waktu makan antara saat sahur dan berbuka membuat organ dalam saluran pencernaan memiliki waktu istirahat banyak. Kondisi ini menyebabkan daerah usus tidak berkontraksi, sehingga bisa menimbulkan sembelit atau susah buang air besar. Mengantisipasinya, perbanyaklah minum air putih, serta makan sayur dan buah-buahan.







5. Merasa Kenyang saat Sahur.



Kebiasaan mengemil setelah berbuka atau usai salat Tarawih kerap datang menggoda. Terlebih lagi, jika saat berbuka "kalap" dan menyantap makanan sebanyak mungkin. Hal itu menyebabkan perut terasa kenyang saat waktu sahur tiba. Makanlah secukupnya.






5 Godaan Ketika Berpuasa dan Cara Mengatasinya







https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixDM2QPtcJZUIhlv0eL6ArRQCFcD6ITMXsalUpHWILvWzTBkyMy2ISpnS6U5Zk495lg78CLPpunTgX6z4iamWqksgUxa3m-zDxPtnnqJIkzEJ-lIBkm6HlcV-U-iHYn8F3CTvvqj-kduP2/s1600/enak.jpg







Bulan Ramadan merupakan kesempatan bagi muslim seluruh dunia untuk meraih pahala melalui ibadah puasa. Agar ibadah tersebut berjalan lancar, terapkanlah strategi pola makan sehat dan tepat. Persisnya, untuk mengatasi lima "cobaan" puasa.







1. "Kalap" ketika Berbuka



Aksi "balas dendam" kerap dilakukan secara tidak sadar ketika berbuka puasa. Padahal, puasa melatih seseorang lebih bersabar menahan diri, termasuk nafsu menyantap makanan berlebihan. Pilihlah minuman dan makanan yang memiliki asupan elektrolik tinggi untuk menimalisir efek dehirasi. Makananlah secukupnya dan pilihlah buah-buahan sebagai pencuci mulut, hal ini dapat mengurangi "efek" bobot berlebih alias kegemukan usai berpuasa.







2. Lemas saat Berpuasa.



Dengan berpuasa kerja organ tubuh "diistirahatkan" selama 12 jam lebih. Alhasil, tubuh Anda secara otomatis beradaptasi menjadi mudah lemas dan mengantuk, terutama di minggu pertama puasa. Mengatasinya, konsumsilah makanan suplemen saat sahur seperti Vitamin C dan vitamin B, atau multivitamin yang mengandung zinc dan selenium. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk memilih suplemen yang tepat.







http://3.bp.blogspot.com/-hTInckEDLD8/TjwI7OTEbvI/AAAAAAAACkM/rXinkHedyIU/s1600/puasa.jpeg







3. Bau Mulut.



Aroma mulut yang kurang sedap kerap menjadi tantangan tersendiri saat berpuasa. Larangan minum membuat tubuh mengalami dehidrasi dan rongga mulut menjadi kering. Alhasil kadar air liur atau saliva mengalami penurunan dan membuat bakteri dalam mulut mudah berkembang biak. Santaplah menu makanan yang mengandung seledri, keju, jamur shiitake (sejenis jamur), dan biji wijen. Bahan tersebut mampu melindungi rongga mulut dan membunuh bakteri yang menimbulkan bau tidak sedap.







4. Sembelit atau Konstipasi.



Jeda waktu makan antara saat sahur dan berbuka membuat organ dalam saluran pencernaan memiliki waktu istirahat banyak. Kondisi ini menyebabkan daerah usus tidak berkontraksi, sehingga bisa menimbulkan sembelit atau susah buang air besar. Mengantisipasinya, perbanyaklah minum air putih, serta makan sayur dan buah-buahan.







5. Merasa Kenyang saat Sahur.



Kebiasaan mengemil setelah berbuka atau usai salat Tarawih kerap datang menggoda. Terlebih lagi, jika saat berbuka "kalap" dan menyantap makanan sebanyak mungkin. Hal itu menyebabkan perut terasa kenyang saat waktu sahur tiba. Makanlah secukupnya.






Kamis, 18 Agustus 2011

Cara paling sederhana menguatkan sinyal modem wifi





Modalnya cuma kaleng minuman bekas...



Simak cara-cara pembuatannya...



































Sekarang tinggal arahkan ke bagian mana yang akan memperoleh sinyal wifi lebih kuat...





Cara paling sederhana menguatkan sinyal modem wifi





Modalnya cuma kaleng minuman bekas...



Simak cara-cara pembuatannya...



































Sekarang tinggal arahkan ke bagian mana yang akan memperoleh sinyal wifi lebih kuat...